Senin, 07 Oktober 2013

ANEMIA


Anemia (Kurang darah)
.
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh.

Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh


Dalam uji klinis, signifikan anemia (hemoglobin <10 g / dL) telah diamati dalam 9-13% dari pasien. Sedang anemia (hemoglobin <11 g / dL) dapat dilihat dalam 30% kasus. Mean pengurangan maksimal dalam hemoglobin dapat sebagai tinggi sebagai
3,7 g / dl dalam 2 pertama sampai 4 minggu kombinasi terapi. Dalam "dunia nyata", anemia mungkin penyebab utama prematur penghentian terapi kombinasi, akuntansi
36% dari semua discontinuations (yaitu, 8,8% dari seluruh pasien). Populasi pasien tertentu muncul lebih rentan terhadap anemia seperti sirosis pasien, pasien koinfeksi HIV, dan hati penerima transplantasi

Penyebab Anemia




Penyebab anemia umumnya adalah :
- Kurang gizi (malnutrisi)
- Kurang zat besi dalam diet.
- Malabsorpsi
- Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu, dan lain-lain.
- Penyakit – penyakit kronik: TBC, Paru-paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.


Frekuensi Anemia di Masa Kehamilan
Frekuensi kehamilan cukup tinggi, yaitu 10 – 20%. Frekuensi anemia dalam kehamilam di Indonesia.

a. Hoo Swie Tjiong (1962) : 18,5%.
b. Njo Tiong tiat dan Poerwo Soedarmo (1975): 16,1% pada Wulan I dan 49,9% pada triwulan II.
Pengaruh Anemia terhadap kehamilan,persalinan dan nifas

1. Keguguran

2. Partus prematurus
3. Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah.
4. Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan
5. Syok

6. Afibrinogemia dan hipofrinogenemia.
7. Infeksi Intrapartum dan dalam nifas.
8. Bila terjadi anemia gravis (Hb dibawah 4 gr%) terjadi payah jantung, yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal.
Pengaruh anemia terhadap hasil konsepsi
Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah :
1. Kematian mudigah (Keguguran).
2. Kematian janin dalam kandungan
3. Kematian janin waktu lahir (stillbirth),

4. Kematian perinatal tinggi,

5. Prematuritas.
6. Dapat terjadi cacat-bawaan.
7. Cadangan besi kurang.

Klasifikasi anemia dalam kehamilan
1. Anemia defisiensi besi (62,3%)
2. Anemia megaloblastik (29,0%)
3. Anemia hipoplastik (8,0%)
4. Anemia hemolitik (sel sickle) (0,7%)
1. Anemia defisiensi besi
Anemia jenis ini biasanya berbentuk ormositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpainya. Penyebabnya telah dibicarakan diatas sebagai penyebab anemiaa umumnya.
Pengobatan :
Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil, hamil, dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah :
a. FNB Amerika Serikat (1958) = 12 Mg – 15 mg – 15 mg.
b. LIPI Indonesia (1968)= 12 mg – 17 mg – 17 mg.


2. Anemia megaloblastik
Biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Penyebabnya adalah kekurangan asam folik, jarang sekali akibat karena kekurangan Vitamin B12. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik
Pengobatan :
a. Asam tolik 15 – 30 / hari.
b. Vitamin B12 3 x 1 tablet perhari.
c. Sulfas ferosus 3 x 1 tablet per hari.
d. Pada kasus berat dan pengobatan oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.

3. Anemia hipoplasti
Disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan.

a. Darah tepi lengkap.
n. Pemeriksaan fungsi sternal.
c. Pemeriksaan retikulosif, dan lain-lain.
Terapi dengan obat-obatan dan memuaskan, mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah, yang perlu sering diulang.
1. Anemia hemolitik
Disebabkan penghancuran / pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari perbuatannya ini dapat disebankan oleh :
a. Faktor intra korpuskuler: dijumpai pada anemia hemolitik heriditer, tala semia, anemia sel sickle (sabit), hemoglobinopati C, D, G, H, I, dan paraksimal hokturnal hemoglobinuria.
Faktor ekstra korpuskuler: disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan dapat beserta obat-obatan, leukimia, penyakit hodgkin, dan lain-lain.


Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya, bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obatan penambah darah. Namun, pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini memberi hasil. Maka darah berulang dapat membantu penderita ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar